artikel
HAKEKAT FILSAFAT ADMINISTRASI
DIHUBUNGKAN DENGAN
TEORI X, Y dan Z
( terutama sikap seorang leader )
Filsafat
berasal dari bahasa Yunani yaitu philo dan sophia. Philo berarti gemar akan
atau mencintai, sedangkan sophia berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Jadi
secara harafiah filsafat berarti cinta akan kebenaran atau cinta akan
kebijaksanaan. Semua orang yang belajar filsafat dan mendlminya disebut filsuf.
Tugas dari seorang filsuf adalah mempelajari segala fenomena yang terjadi
dilingkungan sekitarnya dan berusaha untuk mencari tentang hakekat dan
kebenarannya secara mendalam, dengan demikian dia akan membuat keputusan yang
adil serta bertindak bijaksana.
Setelah mengetahui arti dan hakekat dari filsafa maka muncul
sebuah pertanyaan dalam diri saya yaitu: Mengapa saya harus belajar dan
mendalami dan memahami hakikat filsafat? Saya mempelajari dan mendalami
filsafat administrasi karena saya adalah seorang calon pemimpin atau publik
figur maka saya kira hal ini sangat penting karena dari sini saya dapat belajar
menjadi seorang pemimpin yang baik dan mampu memimpin sebuah organisasi dengan
bijaksana dan penuh tanggungjawab.
Seorang pemimpin yang baik adalah seorang pemimpin yang
dapat mengatasi segala permasalahan yang terjadi di dalam suatu organisasi
kepemimpinannya. Saya menghubungkan seorang pemimpin dengan teori x,y,dan z.
Dimana ketiga teori ini sangat mempengaruhi prilaku seorang pemimpin. Jika
seorang pemimpin menerapkan teori X dalam setiap tindakkannya, sangat kecil
kemungkinan suatu organisasi yang di pimpinnya akan maju. Namun sebaliknya,
seorang pemimpin yang menerapkan teori Y dalam setiap tindakannya, dengan
mudahnya dia akan mengatasi segala permasalahan dalam kepemimpinannya, dia
lebih giat dan berpikir lebih maju. Sehingga dia akan menjadi sebuah panutan
bagi bawahannya. Seorang pemimpin yang menerapkan teori Y dalam dirinya, maka
boleh di jamin bahwa dia akan sukses dengan sangat baik. Seorang pemimpin juga
dituntut untuk memiliki sikap yang lebih kritis terhadap semua perubahan yang
terjadi di likungan sekelilingnya, mengoreksi setiap perubahan yang terjadi di
masyarakat atau pun di dalam organisasinya. Agar setiap kebijakan yang di ambil
tidak berat sebelah, dalam arti tidak menguntungkan hanya salah satu
pihakdengan sangat baik. Seorang pemimpin juga dituntut untuk memiliki sikap
yang lebih kritis terhadap semua perubahan yang terjadi di likungan
sekelilingnya, mengoreksi setiap perubahan yang terjadi di masyarakat atau pun
di dalam organisasinya. Agar setiap kebijakan yang di ambil tidak berat
sebelah, dalam arti tidak menguntungkan hanya salah satu pihak.
Setelah mengikuti kuliah Pengantar Filsafat Administrasi
saya mendapatkan satu pengetahuan baru yang amat berharga bagi yakni
pengetahuan mengenai sifat dan katakter seseorang berdasarkan teori X, Y dan Z. Mengapa penting? Karena
saya adalah seorang calon pemimpin maka saya harus mengenal sifat dan karakter
pribadi saya, dengan demikian saya berusaha mengenal dan memahami sifat dan
karakter bawahan saya (orang atau kelompok yang saya pimpin) sehingga saya dapat
menjalankan tugas kepemimpinan saya dengan baik dan bijaksana. Hal ini tidak
hanya berhenti pada taraf pengetahuan saja namun yang lebih penting adalah
setelah saya mempelajari dan berusaha mempraktekan serta mengaplikaasikan apa
yang sudah saya dapat melalui proses kuliah Pengantar Filsafa Administrasi.
Dari sini saya tahu, paham, dan mampu mengaplikasikan gaya atau tipe
kepemimpinan dengan bersandarkan pada teori sifat yang dijelaskan dalam teori X, Y dan Z.
Untuk
menegetahui tipe atau gaya kepemimpinan dari seseorang kita harus tahu dan
paham terlebih dahulu mengenai sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang.
Setelah kita memahami sifatnya maka kita bisa memahami tipe atau gaya
kepemimpinan yang dia gunakan. Untuk memahami sifat dan gaya kepemimpinan
seseorang kita dapat menggunakan teori X, Y dan Z. Teori X menjelaskan bahwa
seorang hanya memiliki sifat negatif atau sifat buruk. Artinya melakukan
sesuatu selau dengan sikap yang terpaksa
dan kurang bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan kepadanya. Teori Y
menjelaskan bahwa manusia memiliki sifat positif atau sifat baik. Artinya
selalu menerima dan melakukan pekerjaan secara sukarela dan penuh
tanggungjawab. Teori Z merupakan gabungan dari teori X dan Y. Teori ini
menjelaskan sifat manusia yang tidak tetap atau selalu berubah. Kadang baik dan
kadang buruk.
Jika
teori ini dikaitkan dengan kepemimpinan maka dapat kita simpulkan bahwa seorang
pemimpin yang ideal adalah seorang pemimpin yang memiliki kriteria teori Y. Namun perlu kita ketahui bahwa seorang pemimpin bisa
menerapkan ketiga teori tersebut dalam menjalankan tugas kepemimpinannya.
Mengapa? Karena terkadang bawahan memiliki tipe seperti yang dijelaskan dalaam
teori X jadi dia (pemimpin) harus memberikan teguran dan sanksi sehingga bawahannya bisa bekerja
secara maksimal. Sebaliknya jika bawahannya meiliki kesadaran dan tanggungjawab
dalam melaksanakan tugasnya maka seorang pemimpin akan mengajak mereka
(bawahan) untuk bekerjasama dalam menentukan keputusan demi mencapai tujuan
dari organisasi yang dia pimpin. Terkadang seorang pemimpin harus menerapkan
teori Z jika sifat bawahannya tidak
pasti dan selalu berubah-ubah. Kesimpulannya semua tipe atau gaya kepemimpinan
yang ada di dalam teori X, Y dan Z adalah baik dan bisa diterapkan oleh semua
pemimpin tergantung dari situasi dan kondisi bawahannya. Jika ingin menjadi
pemimpin yang sukses maka kita harus belajar filsafat administrasi, dengan
demikian kita akan menjadi pemimpin yang bijaksana dan sukses dalam menjalankan
tugas kepemimpinan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar